Dear Santri, Ingatlah selalu kenangan kita
Matahari
terbenam di balik gedung berlantai lima di
kota seribu angkot, aku mulai mengingat tentang kita dulu. Ya, hanya kita yang
tau. Aroma persahabatan yang kental seperti
keluarga sendiri. Kita dulu pernah satu atap selama 6 tahun untuk menuntut ilmu
bersama, tentu saja kenangan itu tak akan pernah sirna. Izinkan aku untuk
mengenang sedikit masa – masa itu, masa remaja yang penuh suka dan duka.
Penjara
suci, bukanlah sebuah penjara tempat para napi sungguhan. Itu hanyalah istilah
dari kami para santri dengan menyebut nama lain dari pondok pesantren. Penjara
karena kami tidak melakukan kegiatan di luar lingkungan pondok pesantren, suci
karena kami di taruh di sana untuk belajar makna kehidupan yang didasari
pendidikan agama.
Teruntuk
sahabatku nun jauh di sana, masih ingatkah kamu ketika kita sama – sama terbangun
dari tidur untuk sholat subuh berjama’ah? ketika adzan subuh berkumandang, kita
berebut untuk mengambil air wudhu lalu berlari ke masjid supaya tidak
tertinggal? karena kalau sampai imam selesai sholat, itu artinya kita tidak
akan ikut berjama’ah dan pastinya mendapat hukuman karena tidak disiplin. Bukan
sekali dua kali kita melakukan hal itu, bahkan sering kali karena jadwal tidur
yang lebih sedikit di banding remaja umumnya. Bukan itu saja masalahnya, entah
kenapa di pondok pesantren seringkali kekurangan air. Padahal warga sekitar tak
pernah merasa begitu.
Masih
ingatkah kalian di saat belajar mengaji setelah sholat subuh? Sebenarnya hal
itu adalah hal terberat di dalam pondok pesantren. Bayangkan saja, kami harus
mengartikan kitab dan memahami isi kandungan dalam keadaan masih mengantuk.
Pasti banyak yang tertidur saat itu, aku ingat benar. Bahkan ustadzah yang
melihatnya pun sampai tertawa melihat tingkah konyol kami. Rasanya, hanya
santri (sebutan untuk anak yang tinggal di pondok pesantren) yang bisa tidur dalam posisi duduk sempurna.
Setelah
itu kami diberi jeda untuk bersih – bersih hanya dalam waktu satu jam, dan
dalam satu pondok pesantren hanya terdapat 20 kamar mandi dan 20 wc, sedangkan
santrinya mencapai ratusan. Seringkali kami harus mengantri untuk mandi. Bahkan
kami sampai menungguinya di depan pintu kamar mandi supaya antrian kami tidak
hilang. Di situ kami terlatih untuk tidak bersikap egois (iya juga mana bisa
mandi lama, pasti banyak yang neriakin) jadi kalau dihitung,kami hanya mandi
sekitar 3 menit dan itu lebih dari cukup bagi kami(judulnya yang penting mandi
sih).
Ah,
betapa banyaknya memori yang aku simpan tentang
masa itu. Masa terindah karena bertemu dengan orang baru lintas daerah, tapi juga
hal menyedihkan karena harus berpisah dengan orang tua, adik dan kakak. Kami di
pondok pesantren di ajarkan untuk tidak arogan dengan peduli terhadap sesama.
Ketika ada teman yang kehabisan uang, kami akan saling meminjamkan, ketika ada teman
yang sakit kami akan bersama mengurusnya hingga sembuh. Betapa solid sekali
kami dulu, bahkan kami semua berprinsip : barang yang kamu punya milik bersama.
Hehe.
Rasanya
ingin kembali seperti dulu, bersama melaksanakan kewajiban. Sharing tentang berbagai
macam ilmu. Di dalam pondok pesantren, tidak ada yang namanya gadget holic.
Bahkan membawa hp yang tidak bisa mengakses internet pun di larang. Mungkin
terlihat seperti kejam, tapi sekarang aku baru sadar, gunanya pelarangan gadget
adalah supaya tidak terbawa arus
pergaulan yang kurang baik, walau sebenarnya ada banyak juga manfaat
positifnya.
Ingatlah
teman, persahabatan kita tak akan
pernah putus. Aku akan terus mendoakanmu dan ku harap kau pun mendoakanku. Tak
ada hal yang lebih romantis bukan daripada sebuah doa? Kita hanya membisikkan
di tanah tapi terdengar oleh langit. Sejauh apapun langkah
kaki ini, kupastikan aku akan selalu mengingatmu. Teruslah
berkarya sahabat, semoga kalian sukses dengan jalur yang kalian tempuh saat ini
dan dapat memanfaatkan ilmu dengan sebaik- baiknya.







Hai Santriwatii
BalasHapus